05 April 2019

Suka Trading Tanpa Stop Loss? Lebih Baik Pilih Saham

Suka Trading Tanpa Stop Loss? Lebih Baik Pilih Saham

Post ini terinspirasi dari seorang teman saya yang baru belajar trading forex namun tidak suka menggunakan stop loss, bahkan dia tidak tahu berapa jumlah resiko yang ditanggung ketika membuka posisi. Bagi saya itu adalah sebuah kesalahan fatal yang harus segera dirubah.

Saya mengerti dan sudah pernah mengalami ketakutan menggunakan stop loss, yaitu untuk menghindari harga menyentuh level SL lalu seketika itu langsung berbalik ke arah sesuai analisa kita, betul kan? Kejadian ini biasa disebut dengan istilah stop hunt. Hanya karena menggunakan stop loss posisi yang seharusnya bisa profit malah menjadi loss karena menggunakan stop loss. Tapi apakah sudah terbayangkan, tanpa stop loss secara tidak langsung membiarkan market menghabisi semua dana yang ada di akun kita?

Saya pribadi, sangat menyarankan untuk menggunakan stop loss apa pun alasannya. Cut loss jauh lebih baik dibandingkan dengan membiarkan akun semakin bengkak dan modal awal menjadi habis. Paling tidak dengan menggunakan cut loss ada sisa dana yang bisa kita gunakan untuk trading lagi dan membenahi semua yang sudah terjadi.

Saya menyadari setiap orang itu unik sehingga memungkinkan ada sebagian orang yang memang tidak suka dengan stop loss entah apa alasannya. Apakah ada solusinya? Ada, jadilah investor saham.

Tidak seperti forex yang sifatnya two way opportunity, singkat kata saham adalah instrumen yang memberikan kita keuntungan jika harganya naik.

Di saat harganya turun, itulah kesempatan untuk memborong saham murah dan menjualnya nanti ketika harganya sudah naik. Menurut saya saham BUMN cocok untuk diborong apabila sedang ada diskon.

Saya ilustrasikan begini...

Kita tahu "pada umumnya" saham unggulan harganya selalu naik. Misalnya beli di harga 1.000 per lembar, lalu harga turun ke 500 per lembar, di saat seperti ini sudah jelas kita rugi 500. Namun karena pada umumnya harga saham selalu naik untuk jangka panjang, jadi ini adalah kesempatan untuk membeli saham yang harganya sedang turun di harga 500.

Bagaimana jika harga turun ke 100? Ini lebih bagus lagi karena kita dapat di harga murah, dan suatu saat ketika harga balik ke 1.000 berarti kita mendapatkan keuntungan 900, belum lagi saham yang dibeli di harga 500 akan memberikan keuntungan 400 jika harganya balik ke 1.000.

Saya ilustrasikan lagi dengan gambar:

Suka Trading Tanpa Stop Loss? Lebih Baik Pilih Saham

Perhatikan lingkaran pada gambar di atas:

Lingkaran hitam
Pada tanggal 18 April 2018 harga saham BBNI dibuka pada level 8.950 dan kita membeli pada harga tersebut.

Lingkaran merah
Berselang tujuh bulan ternyata harga saham tidak kunjung naik, bagi seorang investor (munkin bagi para pembenci stop loss juga) ini adalah saat yang tepat untuk memborong agar mendapatkan harga murah. Tepat pada tanggal 11 Oktober 2018 kita beli lagi di harga 6.750. Jika dihitung dari bulan April, berarti kita sudah menanggung kerugian sebesar 8.950 dikurangi 6.750 yaitu 2.200. Itu kerugian per lembar saham, kalau beli 1 lot yang setara 100 lembar berarti total kerugian 220.000.

Lingkaran coklat
Ternyata setelah enam bulan berlalu, saham BBNI akhirnya meroket, di tanggal 4 April 2019 saham ditutup pada harga 9.700, tentu saja ini adalah pertanda baik untuk menjual semua saham yang sudah dibeli pada harga murah. Maka total keuntungan yang didapat adalah 9.700 dikurangi 8.950 ditambah dengan 9.700 dikurangi 6.750, totalnya adalah 3.700.

Apakah harga saham selalu naik? Apakah boleh tidak menggunakan stop loss?


Menjawab pertanyaan tersebut, mari lihat gambar di bawah:

Suka Trading Tanpa Stop Loss? Lebih Baik Pilih Saham

Pada bulan April tahun tertentu, terlihat harga berada pada harga kisaran 7.250, dan mendekati Desember harga berada pada kisaran 5.000, tentu saja jika kita menjual saham di bulan Desember akan mengalami kerugian karena sudah jelas harganya turun. Belum lagi kerugian akan semakin besar apabila kita membeli saham di bulan Juni atau September (averaging) karena di tahun tersebut harga saham BBNI turun sampai level 5.000.

Solusi?


Dari penjelasan di atas, saya menyarankan bagi yang tidak suka menggunakan stop loss lebih baik menjadi investor saham, karena pada umumnya harga saham akan naik. Keuntungan akan berlipat ketika membeli harga saham yang harganya semakin murah, namun tentunya harus memilih perusahaan yang berkinerja baik agar sahamnya mampu meroket kembali.

Kita ambil contoh kerugian di atas, harga saham di bulan April tersebut sekitar 7.250 dan saat ini harga saham meroket hingga 9.700.

Perlu diingat juga waktu untuk kembali "bersinar" tidak sebentar, karena sebagai investor berarti siap menahan dana untuk jangka panjang.

Semua kembali ke diri masing-masing, semua sudah membawa resiko masing-masing. Terakhir dari saya, jika tidak mampu menahan dana untuk jangka panjang lebih baik trading dan gunakan stop loss untuk mengukur resiko. Namun jika rasanya susah untuk menggunakan stop loss dan berharap harga balik, saham adalah instrumen yang tepat.

Bagaimana menurut teman? Silakan bagikan pengalaman dan pendapat di kolom komentar.

Sumber gambar:
https://medium.com/@cryptocreddy/5-stop-loss-mistakes-to-avoid-bea274857371

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only