20 November 2018

Menyusuri Desa "Pengemis" Timur Bali


Singkat cerita, ada sebuah desa di Bali yang dijuluki sebagai desa pengemis. Julukan ini diberikan karena konon kebanyakan warga dari desa tersebut berkelana ke daerah lain bukan untuk mencari pekerjaan, tetapi mengemis. Desa ini terletak di Kabupaten Karangasem, bagian timur pulau Bali.

Ya, jika sobat adalah warga Bali maka mendengar kata "Desa Munti" berikut dengan julukannya sebagai desa pengemis tidaklah terasa asing di telinga. Tidak susah untuk sampai ke desa ini. Jika sobat datang dari arah Singaraja menuju Karangasem, cukup perhatikan setiap marka jalan yang terlihat. Terpampang besar petunjuk menuju Munti Gunung seperti gambar di atas, begitu juga sebaliknya apabila datang dari arah Karangasem menuju Singaraja.

Terlepas dari mitos desa ini yang katanya terkena kutukan, saya mencoba mencari tahu apa sebenarnya penyebab kebanyakan warga desa ini memilih menjadi pengemis daripada bekerja. Untuk itu saya coba menyusuri seluruh bagian desa ini.

Jalan Setara Sirkuit Balap

Mendengar kata desa, biasanya secara langsung atau tidak langsung pikiran akan otomatis membayangkan jalan yang rusak, berlumpur, berlubang dan lainnya. Tapi coba lihat gambar di bawah:


Saya coba susuri dari jalan nasional sampai bukit desa ini dan ternyata jalan di desa ini sangat layak disandingkan dengan trek balapan. Saya yakin ini adalah bukti nyata kepedulian pemerintah setempat akan kesejahteraan warganya. Dengan jalan sebagus ini, saya rasa sudah sangat baik jika dipergunakan sebagai akses perdagangan atau pendistribusian segala macam hal untuk desa ini sehingga tidak ada warga yang tidak mendapat perhatian dari pemerintah setempat.

Ekonomi yang Berjalan

Berdasarkan pengamatan saya, roda ekonomi di desa ini masih berputar dan saya yakin terus akan berputar. Terlihat dari fasilitas dan kelengkapan di desa ini tidak jauh dari perkotaan, hanya saja ruang lingkupnya masih kecil. Tempat-tempat seperti bengkel, warung, toko obat, dan lainnya sangat bisa ditemukan di sini. Selain itu saya juga melihat warga setempat yang memiliki usaha pembuatan pura, batako, penjualan hasil bumi seperti pasir dan batu.

Berkat jalanan yang bagus, setiap warga tidak susah untuk mendapatkan pendidikan untuk kehidupan yang lebih baik.


Kering Kerontang

Tidak bisa dipungkiri, sepanjang perjalanan mata saya disuguhkan oleh pemandangan yang kering layaknya padang pasir. Saluran air pun haus akan air dan kenyang dengan sampah.


Hanya tanaman berakar dalam yang mampu menghijau, sementara kegiatan seperti bercocok tanam dan berternak sapi tidak saya temukan di sini. Wajar, dengan kondisi seperti ini rasanya sulit untuk mengembangkan pertanian di tanah yang kering. Kebanyakan dari warga mengumpulkan kayu untuk memasak.


Melihat kenyataan ini menurut saya pribadi mungkin ada baiknya warga membuat sumur bor atau membuat penampungan air hujan agar dapat digunakan untuk bercocok tanam, karena setahu saya tanah di Karangasem sangat baik untuk ditanami segala macam tumbuhan.

Saatnya Untuk Pulang

Puas dengan segala pengalaman yang diberikan oleh desa Munti, sudah saatnya untuk saya balik ke alam saya.

Untuk saat ini, mungkin julukan desa pengemis masih terdengar di telinga. Namun dengan kemajuan infrastruktur dan pesatnya informasi yang berimbas pada pendidikan, saya memiliki keyakinan suatu saat nanti julukan desa pengemis hanya menjadi kenangan.

Posting Komentar

favourite category

...
test section description

Whatsapp Button works on Mobile Device only