31 Mei 2018

Mencoba Railink Soetta: rasanya bukan di Indonesia lagi

Railink Soetta: rasanya bukan di Indonesia lagi

Jadi singkat cerita beberapa hari yang lalu saya mencoba railink bandara Soetta Jakarta. Saya menggunakan judul seperti di atas karena dari awal sampai akhir menggunakan railink prosesnya sudah sangat modern dan canggih seperti di negara luar, mungkin tidak lama lagi seluruh Indonesia akan menggunakan teknologi seperti railink. Seperti apa dan bagaimana alur menggunakan kereta ini?

Postingan kali ini akan sedikit agak panjang karena saya akan bercerita pengalaman pertama menggunakan railink, mulai dari kebingungan saya sampai dengan bagaimana saya bisa sampai di tujuan. Postingan ini lebih cocok untuk teman yang baru pertama kali menggunakan railink juga.

Mengenai railink

Jadi railink adalah kereta yang digunakan khusus untuk mengantar penumpang menuju bandara dan beberapa stasiun saja. Jika teman naik dari arah bandara, secara berurutan railink akan berhenti di stasiun berikut:
  1. Batu Ceper
  2. Duri
  3. Tanah Abang
  4. Karet
  5. Sudirman Baru
  6. Manggarai
Ingat, kereta hanya akan berhenti di stasiun tersebut. Jadi pastikan dulu tujuan agar tepat turun di salah satu dari enam stasiun tersebut. Sampai sini saya rasa sudah jelas.

Dari terminal bandara ke stasiun railink

Sebenarnya awalnya saya ingin menggunakan bis damri untuk sampai ke tujuan. Pada saat itu saya berputar untuk mencari konter tiket damri tetapi saya terkejut mengapa ada kereta melayang di kejauhan sana? Saya melihatnya dari terminal 1b Soetta. Setelah sedikit menggunakan logika akhirnya saya berpikir, oh mungkin inikah kereta yang baru diresmikan itu? Tanpa berpikir panjang segera saya mendekat ke stasiun kereta, tampak seperti gambar di bawah:

Railink Soetta: rasanya bukan di Indonesia lagi

Setelah masuk saya pun bertanya ke petugas di mana membeli tiket untuk tujuan Sudirman Baru, petugas tersebut mengatakan:
Silakan naik ke atas lalu naik kereta sampai di pemberhentian pertama, lalu turun dan di sanalah membeli tiket
Hmm, sedikit membingungkan ya? Sudah naik kereta kok disuruh turun lagi? Tapi oke lah saya ikuti arahan dari petugas walaupun masih merasa bingung.

Railink Soetta: rasanya bukan di Indonesia lagi

Sampai di lantai atas sesuai arahan petugas, saya langsung menuju ke tempat pemberangkatan...

Railink Soetta: rasanya bukan di Indonesia lagi

Akhirnya saya pun melihat rel kereta dan kereta ini sepertinya digerakkan menggunakan tenaga listrik...

Railink Soetta: rasanya bukan di Indonesia lagi

Tak beberapa lama akhirnya kereta datang, saya pun duduk di muka, saya duduk di belakang pak masinis yang sedang bekerja mengendarai kereta supaya baik jalannya, dan akhirnya jug ijag ijug ijag ijuggg kereta berangkat, hahay... Saya baru pertama ini melihat masinis bekerja, ternyata kereta tidak punya setir, tidak ada pedal gas, rem dan kopling. Selain itu entah mengapa saya merasa seperti dalam game GTA V dan rasanya ingin sekali untuk ... hmm lupakan.

Railink Soetta: rasanya bukan di Indonesia lagi

Inilah suasana dalam dan luar kereta...

Railink Soetta: rasanya bukan di Indonesia lagi

Railink Soetta: rasanya bukan di Indonesia lagi

Kereta pun berhenti, mengingat arahan dari petugas saya ragu untuk keluar karena saya merasa kalau keluar jadinya gak sampai tujuan dong? Tapi rasanya lebih baik saya ikuti arahan saja toh juga ada kereta yang akan lewat, begitu dalam hati.

Turun dari kereta saya ikuti petunjuk dan langkah orang lain, dan sampailah saya ke stasiun yang lebih besar dari sebelumnya, kesan saya setelah masuk stasiun ini: warbyasah keren!

Railink Soetta: rasanya bukan di Indonesia lagi

Seperti biasa saya berputar-putar dulu untuk melihat suasana. Setelah masuk, di bagian kiri saya melihat komputer layar sentuh lengkap dengan EDC, lagi-lagi logika saya mengatakan mungkin di sini membeli tiket, dan ternyata logika saya betul, hehe.

Railink Soetta: rasanya bukan di Indonesia lagi

Jadi di sinilah teman akan membeli tiket. Saya tidak bisa menjelaskan secara detail alur membeli tiket di tempat ini. Secara garis besar teman harus memilih tempat tujuan, lalu membayar menggunakan kartu kredit atau ATM yang digesek di EDC, selanjutnya tiket akan keluar sendirinya. Tapi tenang jika bingung di sana ada petugas yang siap membantu teman. Saya harus membayar 70 ribu menggunakan kartu ATM untuk tujuan Sudirman, tanpa dikenakan biaya.

Railink Soetta: rasanya bukan di Indonesia lagi

Oke setelah tiket sudah saya dapatkan, sambil menunggu kereta datang saya bersantai dulu di tempat yang sudah disediakan, seperti apa tempatnya? Wah jangan ditanya, pokoknya te-o-pe be-ge-te...

Railink Soetta: rasanya bukan di Indonesia lagi

Nunggu kereta sambil kerja di laptop tapi gak bisa karena baterai lemah? Itu sih masalah kecil di sini...

Railink Soetta: rasanya bukan di Indonesia lagi

Waktu menunjukkan saatnya saya harus naik kereta. petugas pun mengarahkan ke mana harus melangkah. Oh ya saya pun baru paham mengapa harus turun di sini. Ternyata saat saya naik di tempat awal di mana saat saya bertanya ke petugas, tempat itu adalah tempat naiknya penumpang dari bandara yang selanjutnya akan diturunkan di tempat di mana saya membeli tiket. Apabila saya tidak turun, kemungkinan saya akan ke stasiun/shelter 2 di terminal 2 bandara dan lanjut ke stasiun/shelter 3 di terminal 3 bandara. Bagaimana jika saya terlanjur sampai di terminal 2 bandara? Ya tinggal balik lagi menuju terminal 1 bandara menggunakan kereta ini. Apakah sudah jelas? Saya rasa sudah ya.

Railink Soetta: rasanya bukan di Indonesia lagi

Karena keretanya panjang, jadi lorong untuk masuk ke kereta juga panjang...

Railink Soetta: rasanya bukan di Indonesia lagi

Bagaimana suasana dalam kereta? Silakan teman nilai sendiri, bagi saya sudah sangat baik. AC yang dingin, tempat duduknya nyaman dan bersih, sandaran tempat duduk pun bisa diturunkan...

Railink Soetta: rasanya bukan di Indonesia lagi

Mau narsis tapi baterai habis? Coba cek bagian bawah pembatas kursi tempat duduk, terselamatkan jiwa kalian wahai para narsiser, hehehe...

Railink Soetta: rasanya bukan di Indonesia lagi

Terakhir, perjalanan saya menuju tempat tujuan pun dimulai dan cerita cukup sampai di sini...

Railink Soetta: rasanya bukan di Indonesia lagi

Kekurangan railink

Ada satu hal yang menurut saya menjadi kekurangan railink yang mungkin akan dirasakan oleh penumpang pemula seperti saya, yaitu tidak ada pemberitahuan kereta berhenti di stasiun tertentu. Seharusnya pada saat kereta berhenti ada pengumuman menggunakan speaker bahwa kereta sudah sampai di stasiun a atau b. Jadi saya pun harus menghitung dan memastikan kereta sudah tepat berhenti di stasiun Sudirman. Saya tidak tahu bagaimana seandanya turun lebih cepat di stasiun Karet atau kelewatan sampai Stasiun Manggarai. Kemungkinan saya harus menunggu kereta berikutnya agar sampai ke tujuan saya. Atau jika terpaksa harus turun di Manggarai mungkin saya harus membayar lebih.

Itulah pengalaman seorang pemula yang nekad mencoba railink, ada beberapa hal penting yang harus teman perhatikan:
  • Jangan pernah malu bertanya ke petugas, ingat pepatah: malu bertanya sesat di stasiun.
  • Bawalah kartu kredit/ATM untuk membeli tiket.
  • Tidak ada pedagang di sekitar stasiun, pastikan teman sudah membawa bekal dari rumah atau membeli di bandara.
  • Sampai di kereta duduklah dengan orang atau paling tidak dekat dengan petugas, selain agar mudah bertanya cara ini memperbesar kemungkinan kita bertemu jodoh yang selama ini hilang atau tertukar.
  • Tiket jangan sampai terlipat, rusak, apalagi dibuang. Karena tiket akan digunakan untuk keluar di stasiun tujuan.
Bagaimana dengan pengalaman teman? Silakan share di kolom komentar.

Akhir kata, saya rasa cukup sekian, jika postingan ini bermanfaat silakan klik tombol share di bawah, semoga membantu.

Sumber gambar:
https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Logo_Railink.png

Posting Komentar

favourite category

...
test section description

Whatsapp Button works on Mobile Device only