18 Januari 2016

Belajar psikotes: perlukah?

Belajar psikotes: perlukah?
Psikotes sepertinya tahapan wajib yang harus ditempuh bagi pelamar kerja agar bisa diterima di perusahaan yang dilamarnya. Tidak pernah saya mendengan tanpa melewati test ini seseorang bisa langsung diterima kecuali yang punya perusahaan bapaknya sendiri. Bicara soal psikotes, banyaknya buku "belajar psikotes" yang ada di toko menimbulkan pertanyaan bagi saya, perlukah sebenarnya psikotes itu dipelajari? Di sisi lain, psikotes memang dirasa diperlukan juga untuk menilai seseorang apakah dalam kondisi normal, gay, psikopat, atau seorang pemuja idol yang berlebihan sehingga sering melupakan jobdesk dan menghabiskan bandwith kantor hanya untuk menonton idolnya di youtube, wew...

Balik lagi ke topik: apakah psikotes itu perlu? Saya berpendapat psikotes memang dirasa perlu untuk menilai kejiwaan orang tersebut. Tapi kebanyakan buku psikotes sekarang membuat seseorang untuk merubah kejiwaannya agar sesuai dengan kriteria pegawai perusahaan yang dilamarnya. Jadi mereka terpaksa berbohong agar bisa sekedar lulus.

Saya contohkan saja,
Bagi yang pernah mengikuti psikotes, saya yakin semuanya pasti pernah mengerjakan soal yaitu meneruskan sebuah pola agar menjadi gambar. Dimulai dari tanda titik, lalu berupa coretan sampai soal terakhir yaitu lengkungan yang biasanya orang akan menggambar payung, terbayang?

Ada yang mengatakan apabila orang yang menggambar secara berurutan mulai dari pojok kiri atas lanjut ke kanan, lalu di bawah kiri ke pojok kanan bawah dianggap sebagai orang yang terlalu kaku.

Ada juga yang beranggapan orang yang menggambar secara berurutan dari kiri atas ke kanan, lalu dilanjutkan dari pojok kanan bawah ke kiri dianggap sebagai orang yang mengikuti aturan tapi cendrung dinamis.

Dan bagi orang yang menggambar secara berantakan atau tidak berurutan dianggap sebagai orang yang kreatif dan cendrung berpikir out of the box.

Isunya lagi bagi yang memulai menggambar dari pojok kiri bawah atau nomor 5 dianggap orang yang memiliki kelainan seks, hmmm...

Kita lihat empat situasi di atas, katakanlah si Sangut orangnya sangat kreatif dan sering berpikiran di luar batas yang mampu memecahkan suatu masalah komplek, melamar di tempat yang memang harus mengikuti aturan dan dibatasi oleh ini itu, haruskah si Sangut berbohong kepada dirinya agar bisa lulus di perusahaan tersebut?

Apabila si Sangut menjawab seadanya, sesuai dengan karakternya dengan menggambar secara acak soal menggambar di atas, sudah pasti si Sangut tidak akan diterima karena perusahaan memang mencari orang yang harus mengikuti aturan.

Beda kasus apabila si Sangut melamar di perusahaan multimedia yang memang mencari pemecah masalah dengan cara antimainstream, sudah pasti si Sangut tidak salah melamar kerja.

Berkaca dari situasi di atas, si Sangut bisa saja belajar psikotes dan menggambar secara berurutan. Nah kalau sudah begini siapa yang dirugikan?

Tulisan ini hanya sebatas opini pribadi saja, menyikapi kejadian nyata yang ada di sekitar kita. Jadi apakah perlu psikotes dipelajari?

1 komentar:

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Psikologi.
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Lembaga Pengembangan Psikologi yang bisa anda kunjungi di Informasi Seputar Pengembangan Psikologi

    BalasHapus

favourite category

...
test section describtion

Whatsapp Button works on Mobile Device only